Metropolitan

Novel Baswedan Diklaim Didukung Penuh Masyarakat Terkait Tuduhan Rekayasa Kasus Penyiraman Air Keras

Novel Baswedan diklaim akan dapat dukungan penuh dari masyarakat terkait tudingan rekayasa kasus penyiraman air panas. Aktivis HAM Haris Azhar menuturkan, pelaporan dan gugatan terhadap Novel Baswedan tak memengaruhi turunnya dukungan dan empati masyarakat dalam memberantas korupsi. Penyidik senior KPK itu dilaporkan politisi PDI Perjuangan Dewi Tanjung ke Polda Metro Jaya, Rabu (6/9/11/2019).

Pada hari yang sama, terpidana kasus suap dan pengacara senior OC Kaligis juga menggugat Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Negeri Bengkulu untuk membuka kasus lawas Novel. "Jadi orang seperti itu ketika muncul malah semakin dibenci publik. Mereka ini berani mati untuk tampil beda.

Tapi nggak ada kontribusi apapun terkait terhadap soal kejahatan hari ini," ujar Haris di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sabtu (9/11/2019). Sebaliknya, kata Haris, pelaporan dan gugatan itu sama sekali tak mengganggu kepribadian Novel. Ia menilai Novel tidak akan terlalu ambil pusing dengan tindakan para pelapor dan penggugat.

Pasalnya, peristiwa tersebut hanya sekadar pengalihan dan pembelokan isu lambannya penyelesaian penyiraman air keras yang menimpa Novel. "Jadi Novel mau ditarik untuk sibuk di urusan dan tuduhan hoaks atau fakta palsu itu. Saya pikir nggak perlu ke Novel, polisi pun bisa menjawab si Dewi Tanjung berkerudung merah itu, kan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Novel dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh seorang politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bernama Dewi Tanjung, Rabu (6/11/2019) lalu. Dewi melaporkan Novel Baswedan karena Novel dianggap telah merekayasa peristiwa penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017. Dewi Tanjung Merasa Janggal Luka Mata Novel Baswedan, Saor Siagian Geram & Singgung Rasa Kemanusiaan.

Laporan itu diterima polisi dengan nomor nomor laporan LP/7171/XI/2019/PMJ, Dit. Reskrimsus, tanggal 6 November 2019. Pada hari yang sama, terpidana suap dan pengacara senior Ottp Cornelos Kaligis juga menggugat Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Negeri Bengkulu ke Pengadilan Negeri Jakarta pada Rabu (6/11/2019). Kaligis menginginkan kasus lama Novel terkait penganiayaan pencuri burung walet dibuka kembali.

Nomor registrasi gugatan yakni 958/Pdt.G/2019/PN JKT.SEL dengan klasifikasi perkara wanprestasi. Sidang perdana sendiri akan digelar pada Rabu (4/12/2019). (Kompas.com/Achmad Nasrudin Yahya) Polisi PDIP Dewi Tanjung masih menjadi sorotan publik setelah dirinya menuding kasus penyiraman air keras Novel Baswedan hanya rekayasa.

Tudingan Dewi Tanjung tersebut mengundang pro dan kontra dari publik. Dewi Tanjung bahkan sampai melaporkan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPIK) Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya pada Rabu (6/11/2019). Dewi Tanjung menduga bahwa Novel Baswedan telah melakukan penyebaran berita bohong melalui media elektronik.

Seperti yang diketahui, Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tidak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Dewi Tanjung merasa ada yang janggal, terutama terkait luka pada mata Novel Baswedan. Ia pun menanyakan hal itu pada kuasa hukum Novel Baswedan, Saor Siagian saat menjadi narasumber di program acara Kabar Petang Tv One dilansir pada Jumat (8/11/2019).

Dewi tanjung menanyakan posisi mata Novel Baswedan yang terluka akibat penyiraman air keras. Ia terus mencecar pertanyaan dan nampak emosi pada Saor Siagian. Mulanya, Dewi Tanjung menuturkan informasi yang didapatkannya di berita mengenai kasus Novel Baswedan.

"Saya baca di media, Novel melakukan operasi osteo odonto keratoprosthesis (OOKP), matanya rusak. Saya bertanya mata sebelah mana yang rusak? kanan atau kiri? Anda lawyernya loh," tuturDewiTanjungseraya emosi. Saor Siagian menjelaskan, Dewi Tanjung dipersilahkan untuk mempertanyakan kondisi medis Novel Baswedan kepada pihak berwenang.

"Saya persilahkan anda pergi ke Jakarta Eye Center untuk memastikannya. Saya bukan dokter," tuturSaorSiagian. Saor Siagian lebih lanjut mengatakan, sumber dokumen medisNovelBaswedandikeluarkan berdasarkan dokter yang merawatnya. "Anda mempertanyakan kebenaran soal mata Novel, maka anda relevan pergi ke RS JEC.

Tanya ke dokter berkaitan hal tersebut. Kalau mau detail lagi, tanya ke polisi dan Komnas HAM," jelas Saor Siagian. Tak puas dengan jawabanSaorSiagian,DewiTanjungkian emosi menuturkan bahwa bukan tugasnya untuk pergi ke Jakarta Eye Center untuk mengecek hal tersebut. "Itu urusan penyidik pak.

Tak mungkin RS memberikan data medis pasien lain ke saya, peraturan RS enggak ada seperti itu," tegasDewiTanjung. "Tadi katanya anda melihat posisi mata Novel yang rusak sebelum wawancara ini. Anda bilang Novel harus membaca dengan jarak dekat, maka itu saya tanyakan posisi mata yang rusak sebelah kanan atau kiri?" sambungnya.

Dewi Tanjung menuturkan, jawaban dariSaorSiagiantersebut tak jelas dan membuat blunder. Untuk itu, Dewi Tanjung terus mencecarnya mengenai posisi mata Novel Baswedan yang rusak. "Saya pikir anda tak punya sisi kemanusiaan," jelasSaorSiagian.

Melihat emosiDewiTanjungyang tak terkendali, pembawa acara pun memperingatkan politisiPDIPtersebut. "Mbak Dewi pertanyaan sudah dijawab, nantinya pihak medis yang menjawabnya," ucap pembawa acara. "Bukan itu yang saya mau, beda. Dia bilang kenapa saya tak datang ke Novel," paparDewiTanjung.

"Yang anda mau seperti apa?" tanya pembawa acara. MendengarDewiTanjungtak puas dengan jawabannya,SaorSiagianjustru bereaksi santai. "Jadi dia harus hidup di angkasa lain karena pengennya kan keinginan dia.

Saya sebagai lawyer maka saya beritahu seperti itu," ucapSaorSiagian. Saor Siagian menuturkan, dalam waktu dekat pihakNovelBaswedanakan membawanya ke jalur hukum. Diberitakan sebelumnya,NovelBaswedanmengalami terorairkeraspada 11 April 2017.

Sejak saat itu, polisi menyelidiki kasus itu dan belum menemui titik terang. Kendati demikian, sekitar dua tahun berjalan kasusnya,DewiTanjungmelaporkanNovelBaswedanke polisiatas dugaan melakukan rekayasa terkait kasus penyiramanairkeras. Menindaklanjuti laporan ini, Polda Metro Jaya akan segera memanggil Dewi selaku pelapor dan Novel sebagai terlapor.