Internasional

Menelusuri Indahnya Seni Mural & Grafiti di Jalanan Melbourne

Melbourne ternyata menyimpan beragam mural di sejumlah jalanan. Seni mural dan grafiti menjadi daya tarik wisatawan mengunjungi kota tersebut. Petualangan menelusuri seni mural dan grafiti di Melbourne berawal di Hosier Lane.

Kasper berambut panjang memakai topi dan memegang segelas kopi panas. Ia menyambut kami dengan ramah. "Saya pas SMA bandel, ya main skateboard, lalu bawa pilox melakukan grafiti yang cuma coret coretan," kata Kasper mengawali pembicaraan. Kasper juga memiliki karya di salah satu tembok di Hosier Lane. Selama 10 tahun terakhir, ia mendalami seni murni serta identitas karyanya.

Dalam sehari, wisatawan yang mengunjungi Hosier Lane mencapai 100 orang. Mereka berfoto dengan latar belakang mural yang indah. Mural tersebut hanya bertahan selama tiga minggu hingga satu bulan.

Kemudian, seniman lainnya menggambar mural yang baru di dinding tersebut. Mereka bebas menggambar mural tersebut. Kasper mengakui terkadang seniman dan pemerintah salah pengertian mengenai seni mural. "Ini lokasi tepat di tengah (Melbourne). Padahal kalau disediakan, maka seniman dari seluruh dunia bisa menggambar (di sini)," kata Kasper.

Siang itu, banyak wisatawan mengikuti tur mengenai mural. Kasper menunjukkan hasil karya Burger Lady di sisi tembok. Mural tersebut bergambar wanita yang sedang memakan burger. Namun, rambut wanita itu terdiri dari sayuran yang biasa ditemui di dalam burger. Pada pojok bawah gambar terdapat identitas sang seniman yakni @koryu88.

Kasper lalu menunjukkan karyanya yang berada tepat di depan mural Burger Lady. Ia juga menuliskan identitasnya di sisi bawah mural yakni @kaspersart. Kasper membuat karya tersebut hanya beberapa jam. Pemuda berambut pirang itu menjelaskan tak ada aturan khusus untuk menggambar di area tersebut. Hanya semacam etika jalanan.

"Tak ada peraturan tertulis, saya sendiri biasanya tidak menimpa karya lain kecuali bikin yang lebih indah. Semua punya memiliki karyanya sendiri," kata Kasper. Jalan yang hanya mampu dilewati satu mobil itu pun dipenuhi lukisan mural hingga ke tembok gedung. Panjang jalan sekitar 200 meter. Kasper banyak bercerita mengenai mural yang mampu mengenalkan seniman kepada publik yang lebih luas serta berkarya di sejumlah negara.

Selain mural, ada pula karya seni berupa poster yang ditempel ke tembok. Sang seniman menggunakan lem khusus agar karyanya bertahan lama di tembok itu. "Mereka keliling, berkarya dan menghasilkan uang secara internasional, berawal dari jalanan," ujar Kasper. Namun, Kasper mengingatkan bila mereka melakukan mural di tempat ilegal.

Bila, dirinya kepergok membawa pilox di tempat ilegal maka polisi bisa mendenda hingga 750 dollar Australia. Kasper juga menunjukkan seni tiga dimensi bergambar monyet. Karya seni itu terbuat dari tali rapiah yang diikat di jaring kawat sehingga membentuk wajah hewan primata.

"Ini sangat unik dan bagus," kata Kasper. Tiba di ujung jalan Hosier Lane, Kasper mengajak kami ke sisi sebelahnya. Nama jalan itu menarik perhatian kami, AC/DC Lane. Ya, nama tersebut terinspirasi dari band rock n roll terkenal. Sepanjang jalan itu, mural cover album band terkenal menghiasi dinding. Contohnya Jimi Hendrix, Rage Against The Machine hingga instalasi seni bergambar vokalis AC/DC Bon Scott.

Di lokasi tersebut juga terdapat Cherry Bar. Sebuah tempat berkumpulnya komunitas rock n roll di Melbourne. Bar tersebut sempat tutup karena protes warga setempat yang merasa bising saat pertunjukan musik. "Akhirnya pecinta musik menggalan dana per orang 100 dollar Australia agar bar tersebut kedap suara," kata Kasper. Disela sela tur, Kasper juga menunjukkan kepada kami hasil karya oil painting. Karya tersebut sulit selesai dalam waktu singkat karena tergantung cuaca.

Karya tersebur ditambah cairan khusus agar tidak dapat ditimpa oleh seniman lain. Saat melewati lorong kecil, kami melihat ada remaja yang membawa pilox sedang menulis di tembok. Puas melihat hasil karya seniman mural, Kasper mengajak kami ke Blender Studio tempat dirinya berkarya.

Lokasi studio itu tak jauh dari jalan yang dipenuhi mural. Kami menumpang kendaraan yang telah disewa. Tak sampai 10 menit, kami sampai di studio tersebut. Ruangan tersebut dipenuhi bilik bilik para seniman.

Setiap seniman menyewa bilik seharga 70 dollar seminggu. Mereka bisa menjual hasil karya di tempat tersebut. Sejumlah seniman terlihat sedang berkreasi dengan keahliannya yakni melukis serta ada pula yang menggunakan plastik.