Pendidikan

‘Kurikulum Milenial’ Kak Seto Usul menuju Nadiem Makarim Sekolah Cukup 3 Hari Seminggu & Perhari 3 Jam

Usulan Kak Seto pada Mendikbud Nadiem Makarim menuai sorotan. Kak Seto mengusulkan agar sekolah hanya 3 hari seminggu dimana satu hari hanya 3 jam belajar. Ini yang membuat Kak Seto yakin atas usulannya tersebut.

Pendidikan di Indonesia tengah diperhatikan betul oleh masyarakat semenjak menteri baru, Nadiem Makarim duduk sebagai Mendikbud. Banyak wacana baru mengenai pendidikan Indonesia yang jadi sorotan. Salah satunya yang jadi bahan pembicaraan adalah wacana menghapus Ujian Nasional di tahun 2021.

Nadiem Makarim mengungkapkan wacana penghapusan UN saat ini masih dikaji, dievaluasi dan dilakukan penilaian. "Kan masih dikaji. Baru minggu lalu kan. Ya kita bertahap assessment. Tahap mengevaluasi, jadi ya belum siap," kata Nadiem seperti yang dikutip Kompas.com Kini, terdapat wacana baru yang diajukan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab dengan nama Kak Seto.

Kak Seto memberikan usulan agar hari di sekolah per minggu dikurangi hingga setengah. Tak hanya mengenai hari, Kak Seto juga berbicara mengenai pengurangan jam sekolah. Usulan tersebut disampaikan Kak Seto bukan tanpa dasar.

Sekolah tiga hari itu sudah ia uji coba selama 13 tahun dihomeschoolingmiliknya yang ada di Bintaro, Tangerang Selatan. "Nah kami sudah membuat percobaan sekolah selama 13 tahun ini. Sekolah seminggu hanya tiga kali.

Per hari hanya tiga jam. Tapi lulusannya yang masuk Kedokteran ada di UI, Gajah Mada, dan Undip. Kemudian USU dan Unhas. ITB IPB ada," kata Kak Seto di Mapolres Metro Jakarta Utara, Rabu (4/12/2019). Kak Seto datang ke Polres Metro Jakarta Utara saat memberi pandangannya terkait tawuran maut di Sunter.

Adapun, polisi menetapkan tiga tersangka baru terkait tawuran yang berujung tewasnya Herly Suprapto (27) di Jalan Sunter Kangkungan, Sunter Jaya, Tanjung Priok. Terkait usulannya memotong jam pelajaran sekolah, Kak Seto menilai anak anak tak hanya berprestasi di bidang akademis. Siswa siswa binaannya di sekolah tersebut juga banyak yang jadi pengusaha hingga atlet yang sudah berlaga di kancah Internasional.

"Ada yang tuna rungu, putranya Mbak Dewi Yull lulus diundang ratu Elizabeth di London karena mampu memotivasi sesama tuna rungu," ujar Kak Seto. Sebagai pembanding, Kak Seto juga memiliki sebuah sekolah formal bernama Mutiara Indonesia Internasional yang bekerja sama dengan Universitas Cambridge di Inggris dan telah berjalan sejak tahun 1982. Dari kedua sekolah tersebut, homeschooling Kak Seto yang kegiatan belajar mengajarnya hanya 3 hari justru menerbitkan lulusan yang lebih memuaskan.

Menurut Kak Seto, hal itu bisa terjadi lantaran anak anak merasa senang saat bersekolah. "Begitu tanya, anak anak senang enggak sekolah di sini?, Seneng banget pak. Itu yang penting. Kalau zaman now begitu dengar, anak anak hari ini guru mau rapat.

Horeee bebas dari penjara rasanya," tutur Kak Seto. Kak Seto menjelaskan, di sekolahnya itu proses belajar mengajar dibangun secara efektif dengan memanfaatkan diskusi antar sesama. PR yang diberikan pun harus memicu kreativitas si anak.

Dengan sedikitnya waktu di sekolah, kata Kak Seto, anak anak bisa meluangkan waktunya bersama keluarga serta mengembangkan minat dan bakat mereka. Jadi anak anak tidak jadi "robot" yang diharuskan menerima setiap pelajaran yang ada tanpa mempertimbangkan bakat terpendam mereka yang beda antara satu dan lainnya. "Nah ini yang saya harapkan idenya Mas Menteri baru.

Pokoknya gaya (kurikulum) milenial," pungkas Kak Seto.