Nasional

Hidup Tergantung dari Cara Cuci Tangan kisah Dokter Relawan Covid-19 di RSD Wisma Atlet

Pendemi Virus Corona di Indonesia kian hari belum menunjukkan angka penurunan. Para dokter yang menangani pasien Virus Corona atau Covid 19 melakukan segala upaya bagi penyembuhan pasien. Para pejuang yang bekerja di garda terdepan penangan bencana ini ternyata memiliki kisah masing masing.

Seperti yang diceritakan oleh Debryna Dewi, dokter relawan yang menangani pasienVirus Corona di Rumah Darurat Covid 19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Selama dua pekan itu dr Debryna diketahui baru merasakan libur satu kali setalah berhari hari berjuang di IGD. Itu pun, libur para dokter yang mengatasi Covid 19 ini hanyalah bersifat karantina di lingkungan rumah sakit.

Debryna bercerita, bahwa diRSD Wisma Atlet telah dibagi berbagai zona untuk memisahakan wilayah yang clear dan yang merah atau mengharuskan mengenakan APD lengkap. Virus Corona sejauh ini diketahui memang belum ada obatanya. Para tenaga medis di garda depan hanya bisa melakukan perawatan semaksimal mungkin melakukan perawatan dan terus pemberian obat anti virus dan imunitas tubuh.

Di singgung soal kunci kesembuhan pasien Covid 19, dr Debryna Dewi menyampaikan hal tersebut sangat tergantung pada mental pasien. Ia menyampaikan baik virus atau penyakit kunci kesembuhannya sangan tergantung dengan kondisi mental pasien itu sendiri. Oleh karena itu, ia dan teman temannya senantiasa mendorong pasien untuk selalu optimis dan positif thinking.

"Kalau saya percaya dari semua pengobatan baik itu dari virus atau penyakit penyakit lain, itu kuncinya tetap di mental pasien itu sendiri," kata dr Debryna Dewi dalam sambungan video di kanal YouTube Kompas TV , Jumat (10/4/2020). "Bagaimana supaya bisa menjaga kesehatan mental, supaya tetap optimis supaya mereka bisa sembuh." "Jadi memang obat dan semua medis yang kami lakukan berperan sangat penting, tapi kekuatan diri sendiri keinginan untuk sembuh saya rasa tidak kalah penting juga," tambahnya.

Disinggung soal kelengkapan APD di tempatnya berjuang, ia menyampaikan bahwa kelengkapan APD di Wisma Atlet sangat tidak kekurangan. Meski demikian, protokol penggunaannya tetap meraka perhatikan dengan ketat. Bukan tanpa alasan, nyawa para pejuang medis itu sangatlah tergantung pada APD yang mereka kenakan dengan baik dan prokol kebersiahan yang mereka jalankan.

Debryna mencontohkan, bahkan untuk cuci tangan saja mereka harus melakukannya dengan sangat ketat dan benar. "Musuh kita sekarang tidak kelihatan, kita harus pakai APD, cuci tangan benar benar hidup kita tergantung sama cara cuci tangan sama pakai APD," kata Debryna. "Cuci tangan misal dulu waktu saya mahasiswa 12 langkah cuma, tapi sekarang ternyat hidup gue defence on cuci tangan ini beneran cuci tangan 12 langkah minimal 30 detik itu."

"Kelangkapn APD kita lebih lengkap bila dibandingkan negara semisal Amerika, tapi tetap cara pakai APD itu berbeda dengan kelengkapan APD," lanjutnya. Sebagai pejuang di garda depan, ia hanya berpesan kepada masyarakat untuk tetap mengikuti imbauan pemerintah teruatam untuk tetap berada di rumah agar penularan Covid 19 ini bisa dihentikan. Debryna juga mengimbau agar masyarakat tetap positif thingking dan tidak menyebarkan berita bohong ataupun kepanikan kepada yang lain.

Ia menyadari betul bahwa ini adalah pandemi yang tentunya juga merugikan semua pihak. Oleh sebab itu, semua masyarakat harus bahu membahu untuk menekan angka penularan sesuai dengan peran masing masing. "Ini akan menjadi saran yang klise, saya berharap bisa memberi saran lain tapi ya sudah, stay at home , positif tinking, jangan menyebarkan hoaks dan kepanikan yang tidak terbukti,"

"Ini pandemi jadi saya rasa semua orang akan merasakan dampaknya, akan merasakan kerugian, dan caranya untuk mengatasi ini ya kita harus mengambil peran masing masing untuk mengatasi ini," Per Jumat (10/4/2020), erdapat 353 pasien positif corona yang menjalani rawat inap di RSD Covid 19 Wisma Atlet Kemayoran.