Metropolitan

34 PSK di Gang Royal Penjaringan Diamankan Kafe Prostitusi Nekat Buka Saat PSBB & Ramadan

Kawasan LokalisasiGang Royal, Penjaringan, Jakarta Utara kembali bergeliat saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan, di tengah bulan Ramadan, bisnis prostitusi di tempat tersebut tetap beroperasi. Hal itu diketahui setelah penggerebekan yang dilakukan Tim Tiger Polres Metro Jakarta Utara pada Rabu (20/5/2020) dini hari.

Berdasarkan laporan warga yang mengaku resah dengan aktivitas di Gang Royal Tim Tiger mengecek ke lokasi. Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, hasil penggerebekan, ditemukan lima cafe prostitusi di Gang Royal yang masih buka. "Di lokasi kami menemukan ada lima kafe yang masih buka, antara lain Kafe Sekar Wangi, Kafe Andani, Kafe Dur, Kafe Endang, dan Kafe Arema," kata Budhi dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Utara, Rabu (20/5/2020).

Dari penggerebekan tersebut, polisi juga mengamankan 51 orang yang terdiri dari pengelola kafe prostitusi dan pekerja seks komersial di dalamnya. Adapun dua pekerja seks komersial yang turut diamankan diketahui masih di bawah umur. "Empat orang di antaranya dijadikan tersangka dalam kasus tindak pidana perdagangan orang," jelas Budhi.

Budhi menambahkan, penggerebekan semalam juga termasuk sebagai tindakan pencegahan kerumunan di tengah penerapan PSBB di DKI Jakarta. Penindakannya sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 41 tahun 2020. "Terhadap mereka ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara," ucap Budhi.

Polres Metro Jakarta Utara menggerebek lokalisasi Gang Royal, Penjaringan, Jakarta Utara, di tengah penerapan PSBBdi Jakarta. Saat penggerebekan dini hari tadi, ditemukan sedikitnya lima kafe yang masih buka. "Antara lain Kafe Sekar Wangi, Kafe Andani, Kafe Dur, Kafe Endang, dan Kafe Arema," kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Utara, Rabu (20/5/2020).

Menurut Budhi, saat digerebek, di dalam setiap kafe masih berlangsung aktivitas prostitusi. Polisi menemukan ada 17 pengunjung di dalam lima kafe tersebut. Ada pula 34 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang turut diamankan dari kafe kafe tersebut. Dua di antaranya masih di bawah umur.

Sementara untuk pihak pengelola, polisi mengamankan empat orang yang sudah dijadikan tersangka. "Pada saat kami datang kami bisa membuktikan ada dugaan tindak pidana yang terjadi di situ sehingga kami melakukan penangkapan," jelas Budhi. Keempat orang tersangka masing masing berinisial R, UP, AJ, dan RD.

Mereka ditetapkan tersangka atas dugaan tindak pidana perdagangan anak di bawah umur. Polres Metro Jakarta Utara menggerebek lokalisasi Gang Royal, Penjaringan, Jakarta Utara, di tengah penerapan PSBB DKI Jakarta serta di momen bulan Ramadan. Hasilnya, polisi mengamankan puluhan orang yang sebagian di antaranya adalah para Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, total ada sebanyak 34 PSK yang diamankan dari Gang Royal dari penggerebekan dini hari tadi. "Jumlah PSK yang ada di sana ada 34 orang," kata Budhi dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (20/5/2020). Puluhan PSK tersebut diamankan dari lima kafe prostitusi yang ada di Gang Royal, antara lain Kafe Sekar Wangi, Kafe Andani, Kafe Dur, Kafe Endang, dan Kafe Arema.

Bahkan, dari puluhan PSK tersebut, polisi mendapati dua di antaranya masih di bawah umur. "Dua di antaranya adalah anak anak yang masih di bawah umur. Perempuan jenis kelaminnya," ucap Budhi. Selain para PSK, polisi juga mengamankan empat orang lainnya yang kini sudah dijadikan tersangka.

Empat orang tersebut terdiri dari pengelola kafe, pekerja kafe, dan pelanggan PSK di bawah umur. "Jadi ada empat tersangka yang kami tetapkan dalam pelanggaran tindak pidana baik tindak pidana baik TPPO (tindak pidana perdagangan orang) maupun KUHP," jelas Budhi. Gang Royal di Penjaringan bukan sembarang gang, bertahun tahun menyimpan cerita para penjaja dan pencari cinta singkat.

Warga asli setempat menyebut, lokalisasi ini sudah ada bahkan sejak setengah abad yang lalu. Sudah jelas, semua warga atau mereka yang melintas di sekitaran Penjaringan pasti mengetahui Gang Royal ini. "Setahu saya sudah 50 tahunan ini, orang saya saja udah 30 tahun tinggal di sini," begitu kata Agung Tomasia, Rabu (22/1/2020) lalu.

Agung merupakan Wakil Ketua RT 002/RW 013 Kelurahan Penjaringan. Sopir sopir truk, nelayan nelayan, hingga tukang ojek setiap harinya menjadi pelanggan tetap di lokalisasi ini. Dentuman musik dangdut koplo seolah menyambutpara lelaki hidung belang yang ingin memuaskan syahwat, semakin mendekat.

Banyak jalan menuju Gang Royal. Bisa masuk melalui gapura di tepi Jalan Gedong Panjang atau gang kecil di samping Pos RW 13 Kelurahan Penjaringan. Bahkan, tinggal menyeberangi rel kereta dari arah Bandengan ke Rawa Bebek, pintu masuk ke kamar kamar prostitusi di Gang Royal sudah langsung menyambut.

Asalkan bawa uang minimal Rp 300.000, datang ke Gang Royal sudah bisa dapat paket lengkap. Pekerja seks komersial atau PSK seharga Rp 150.000, kamar seharga Rp 30.000, atau sekadar minuman keras mulai puluhan hingga ratusan ribu, semua bisa didapatkan di lokalisasi ini. Mungkin banderol harga unsur unsur pemuas hasrat di lokalisasi ini terbilang murah.

Tapi, apabila mendengar omzet satu kafe dalam sehari, agaknya terasa sangat besar. Kata Agung, di gang Royal ada sedikitnya 25 kafe yang mayoritas menyediakan bilik kamar tempat prostitusi. Satu kafenya, dalam semalam beroperasi, bisa untung hingga Rp 40 juta.

"Jadi saya pernah iseng iseng nanya berapa pendapatan mereka, dijawab sekitar Rp 30 40 juta semalam," ungkap Agung. Menurut polisi yang mengungkap kasus eksploitasi anak di bawah umur, bahwa keuntungan lokalisasi Gang Royal mencapai miliaran rupiah. PSK di bawah umur tersebut dipekerjakan di Kafe Khayangan.

Belakangan, pemiliknya yang dikenal dengan panggilan Mami Atun sudah ditangkap polisi beserta beberapa tersangka lainnya. Ia dijerat Undang Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP. ( )